Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Peringati Sumpah Pemuda Dengan Diskusi

IMG_20171027_134349Liputan Blogger – Dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) mengadakan diskusi yang bertajuk “Pemuda dan Rebranding Koperasi di Era Milenial” di Auditorium Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Jumat (27/10).

Acara tersebut dibuka oleh Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring. Dalam kesempatan itu, Meliadi mengatakan bahwa generasi milenial sebanyak 60% dari total jumlah penduduk Indonesia merupakan bonus demografi yang bisa dijadikan peluang dalam program Rebranding Koperasi.

“Generasi milenial yang akan memiliki koperasi di masa depan”, kata Meliadi dalam sambutannya.

Meliadi menuturkan, adanya koperasi mahasiswa, koperasi siswa, koperasi pemuda, koperasi pramuka, dan koperasi pesantren akan dijadikan sebagai ikon Re-Branding Koperasi di Indonesia. “Diharapkan mereka bisa bergerak efektif untuk Re-Branding Koperasi di kalangan generasi milenial,” sambungnya.

Dia menambahkan, kalau generasi milenial itu cuek dan tidak peduli, maka masa depan koperasi di Indonesia akan suram. Sekaranglah saatnya generasi milenial merasa penting untuk ikut bersama-sama menggerakkan ekonomi nasional melalui koperasi. Talking and action. “saya berharap generasi milenial memiliki peran yang sangat besar dalam melestarikan dan mengembangkan koperasi” papar Meliadi.

Hadir pula Pengamat Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Koperasi (LePPeK) Suroto memaparkan, adanya koperasi itu bertujuan untuk mereposisi kekuatan ekonomi kapitalis. “Oleh karena itu, kalau mau Rebranding Koperasi harus mampu mereposisi ulang bahwa koperasi itu alat untuk menciptakan keadilan, untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, serta sarana untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur”, terang Suroto.

Oleh karena itu, Suroto mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus menggaungkan bahwa koperasi itu merupakan organisasi modern dan futuristik. Bedanya dengan PT yang mengejar keuntungan bagi pemodal, koperasi mengejar kesejahteraan bagi seluruh anggota dan masyarakat sekitar. “Contohnya kongkrit, di negara maju seperti Singapura dan Amerika Serikat yang besar-besar itu berbadan hukum koperasi. Di Indonesia banyak koperasi besar beraset triliunan rupiah yang lahir dari gerakan komunitas di masyarakat”, jelas Suroto.

Pengamat Koperasi ini mengajak mengajak generasi milenial untuk mereposisi koperasi sebagai sebuah sistem ekonomi masa depan dan moderen. “Yang bisa menjawab tantangan kebangsaan adalah koperasi. Karena, koperasi memiliki nilai kebersamaan dan keadilan untuk mengejar kesejahteraan anggota”, tandas Suroto.

Dia pun yakin, dipastikan koperasi akan punah dari bumi Indonesia, manakala generasi milenialnya sudah tidak tertarik pada koperasi. “Bersiap-siaplah kaum kapitalistik akan menguasai seluruhnya. Saya mengajak, ayo selamatkan masa depan Indonesia dengan cara mengembangkan dan membesarkan koperasi di kalangan generasi milenial”, ujar Suroto dalam pemaparan nya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo) Pendi Yusup menyebutkan bahwa Rebranding Koperasi dapat dilakukan dengan memanej media sosial secara efektif, terarah, dan terukur di kalangan generasi milenial. “Sarana yang pas untuk saat ini adalah dengan memanfaatkan media sosial untuk terus memviralkan secara efektif mengenai koperasi ke kalangan generasi milenial”, kata Pendi dalam penjelasan nya.

Meskipun begitu, lanjut Pendi, secara teknis juga memiliki tantangan yang tak bisa dibilang ringan. “Generasi milenial sekarang ini pemikirannya masih feodal dan kolonial, dengan gaya bisnis konvensional. Oleh karena itu, kita harus jitu menentukan arah dan strategi agar Rebranding Koperasi sukses tertanam di kalangan generasi milenial”, ungkap Pendi.

Pendi mengatakan, Untuk melakukan Re-Branding Koperasi, harus melibatkan akademisi, entitas bisnis, dan komunitas. Semua harus ikut menggaungkan bahwa koperasi adalah jawaban atas upaya pemerataan keadilan sosial ekonomi. Selain itu, koperasi bisa menjadi katalisator segala konflik sosial dan ekonomi.

Lebih lanjut pendi menegaskan, untuk mendukung Re-Branding Koperasi juga memerlukan optimalisasi sosial, dilakukan edukasi ke semua kalangan tentang kebaikan koperasi, sosialisasi secara masif, dan melakukan mobilisasi kekuatan koperasi nasional. Selain itu juga perlu dukungan dari aspek regulasi yang mendukung tumbuh dan berkembangnya koperasi di masyarakat.

“Beberapa hal tadi harus menjadi kekuatan Re-Branding Koperasi. Bila gagal maka bonus demografi malah bisa jadi malapetaka,” pungkas Pendi.

nafian

 

 

 

Film ‘My Generation’ Tentang Remaja Kritis Era Millenial Tayang 9 November 2017

Film yang bergenre drama remaja ini berkisah tentang persahabatan 4 anak SMU, Zeke, Konji, Suki dan Orly. Berawal dari ulah mereka yang memviralkan video protes terhadap guru, sekolah dan orang tua mereka, sehingga membuat liburan sekolahnya menjadi gagal. Akibatnya mereka tidak diperbolehkan liburan.

Meskipun tidak diberikan libur, dengan kondisi yang tidak diinginkan, ternyata membawa mereka pada kondisi yang membuat berpikir, belajar terhadap masalah yang mereka hadapi dengan cara menyelesaikan masalah dari pertanyaan dan ketidakpahaman seputar kehidupan mereka jalani selama liburan.

Kita harus sadar zaman sudah berubah, remaja sekarang sudah semakin kritis. Mereka sudah bukan lagi generasi yang mudah didikte ataupun didoktrin dengan segala harapan dan kemauan kita sebagai orang tua.

Keempat sahabat ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan konflik yang berbeda pula. Penulis akan mengupas karakter yang dimiliki para pemain, yang nantinya akan kita saksikan bersama-sama di Bioskop secara serentak pada 9 November 2017 nanti.

Orly dikenal sebagai perempuan yang kritis, pintar dan berprinsip dan jiwa mudanya sedang tumbuh-tumbuhnya, kekritasan nya terhadap kesetaraan gender yang melabeli kaum perempuan, diantara mengenai keperawanan. Ia mencoba mendobrak label yang disematkan kepada perempuan. Ditilik dari keluarganya, Orly tinggal bersama dengan ibunya yang single parent yang memiliki pacar jauh lebih muda dengan ibunya, hal ini dalam pandangan Orly tidak sesuai dengan umur ibu nya.

Kita pahami sekilas di atas, nampak jiwa yang kritis dalam diri Orly, acapkali bertentangan dengan norma yang terjadi dalam kehidupan dewasa ini. Kita tahu, kekritasan yang tidak didukung oleh orang tuanya, hanya akan menjadi masalah baru, berbeda dengan orang tua yang memiliki kelogowoan terhadap anak-anak. Ketika diajak berkomunikasi, seorang anak tentunya akan dengan terbuka membuka komunikasi manakala orang tua mau mengayomi bukan malah membunuh karakteristik.

Kemudian, pemain lainnya yaitu Suki, dikenal sebagai perempuan yang paling cool diantara teman lain nya. Namun, kepercayaan dirinya hilang dan diperparah dengan perlakuan orang tua yang melabeli negatif terhadap dirinya.

Ketika kepercayaan diri hilang, disinilah peran orang tua hadir, karena anak sesungguhnya memerlukan dorongan positif dari lingkungan dimana dia tinggal, terlebih dari orang tua sendiri. Energi positif yang paling besar biasanya lahir dari orang tua yang memiliki pandangan positif terhadap anaknya, bukan sebaliknya, ini akan menjatuhkan mental perkembangan anak.

Zeke ini pemuda yang memiliki sikap kritis, dikenal juga going dan loyal terhadap teman-teman nya. Pemuda ini menarik, dia memendam luka yang tersimpan di dalam hati nya. Zeke merasa tidak dicintai oleh kedua orang tuanya, untuk menyembuhkan luka yang dipendamnya, pemuda ini berkomunikasi dengan orang tuanya yang selama ini terputus.

Saat menghadapi anak yang memiliki jiwa yang kritis. Orang tua dituntut memiliki jiwa terbuka terhadap anaknya. Orang tua juga harus memberikan kesempatan bagi anak untuk mengeluarkan unek-unek yang ada dalam benak pikiran mereka. Kesuksesan seorang anak dimulai dari keterbukaan orang tua terhadap semua apa yang dikerjakan oleh orang tuanya, pintu komunikasi tertutup manakala kedua belah pihak tidak ada yang mengalah. Ini akan menjadi sulit untuk bersama-sama membangun keluarga yang harmonis dan berkualitas. Penulispun ingin memahami film ini sebagai orang tua yang memiliki tantangan dan tanggung jawab terhadap anak penulis sendiri.

Selanjutnya adalah Konji, pemuda dikenal polos, dia merasa orang tuanya kolot dan over protective menekan dengan aturan yang telah dibuat orang tuanya. Ada satu peristiwa yang membuat Konji shock, membuat kepercayaan terhadap orang tuanya hilang, dia menganggap orang tuanya kontradiktif terhadap peraturan yang dibebankan terhadap dirinya.

Teladan yang baik, diperlukan oleh seorang anak. Mengingat tsunami informasi sekarang ini, peran khusus orang tua sangatlah dinanti-nantikan, mengapa? Apabila orang tua tidak hadir, anak akan mencari lingkungan yang mendukung dirinya nyaman untuk melakukan sesuatu yang dianggapnya perlu dilakukan.

Menurut Sutradara Upi yang paling hits ini, dia ingin menyajikan realita lebih dekat tentang kehidupan generasi millennial, sehingga menjadi catatan penting dalam mengetahui karakter sesungguhnya, Film ini juga dapat menggambarkan generasi millennial yang sesungguhnya, sehingga dengan menyaksikan film ini bagi mereka seperti aktivitas normal keseharian mereka. Dengan karakter generasi yang unik ini maka film ini layaknya sebagai potret mereka yang real.

“Film ini sangat menyiratkan generasi millennial saat ini. Demikian ucap Upi.

Upi menambahkan, film my generation ini telah melakukan riset social media listening selama 2 tahun. Dengan menghabiskan waktu pengerjaan selama 1 tahun.

Film My Generation ini sudah keliling untuk promosi di beberapa sekolah di Jakarta. Kanaan Global School Jakarta dan Sekolah Tzu Chi Jakarta menjadi ajang untuk membedah dan menganalisis film ini. Tontonan yang memberikan edukasi ini, menepis anggapan bahwa film ini tidak mendidik. Sebaiknya, tonton dulu filmnya, baru berkomentar.

Film My Generation melalui IFI Sinema mengajak guru dan siswa untuk nonton bersama, Sutradara Upi ini pula mengajak kalangan pendidik untuk mengetahui secara detail problematika generasi millennial, sehingga film ini dijadikan referensi untuk memahami cara dan bagaimana pendekatan dengan siswa yang baik di tengah arus informasi saat ini.

Penasaran dengan Video Trailernya kan.. simak aja yaa

 

 

Idul Adha, Momentum Spirit Persatuan dan Kesatuan*

Spirit Idul Adha seyogyanya dijadikan momentum untuk meneladani sifat yang dicontohkan Nabi Ismail kepada Nabi Ibrahim. Disana teradapat sifat yang perlu ditiru, ketulusan dan kerelaan yang luar biasa, seorang anak yang patuh terhadap bapaknya.

Simbolisme menyembelih kurban, sejatinya bukan dilihat sebatas penyembelihan nya saja, tetapi jauh dari pada itu harus kita pahami, didalamnya terdapat makna yang paling mendalam, yaitu keikhlasan dan kepasrahan hati.

Semangat berkurban dan membagi-bagikan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan, pelajaran berharga ini harus menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Solidaritas dan kepekaan sosial yang selama ini kendor, dengan momentum ini harus lebih semangat dalam membangun Indonesia yang damai dalam bingkai NKRI.

Dalam konteks saat ini, kelogowan dan kepasrahan hati sudah makin langka, hal itu terbukti dari banyaknya pejabat yang korup, menyalahgunakan wewenang hanya untuk mengambil keuntungan semata, tanpa memedulikan rakyat yang telah bersusah payah memilihnya untuk menjadi wakil rakyat. Namun, keserakahan menghinggapi hatinya, hingga lupa bahwa jabatan yang diembannya itu amanah, amanah yang wajib dijaga dengan penuh ketulusan dan kerelaan mengabdi kepada masyarakat, nusa dan bangsa.

Disamping itu pula, tentunya kita semua masih ingat, fenomena Saracen yang mengerdilkan rasa persatuan dan kesatuan kita, memproduksi konten hoax dan menyebarkan kepada khalayak, tanpa mempertimbangkan akibat dari penyeberan isu hoax.

Keserakahan dan penyebaran hoax merupakan tindakan yang jauh dari spirit Idul Adha, sifat tersebut mengganggu semangat persatuan dan kesatuan, mengganggu keberagaman dan kebhinnekaan yang selama ini kita pupuk bersama. Oleh karena itu, momentum Idul Adha ini harus betul-betul dijadikan pijakan, agar kita dalam melaksanakan tugas yang diamanahkan kepada kita semua betul-betul penuh keikhlasan dan ketulusan.

Dewasa ini, sifat ketulusan dan kepasrahan hati sangat dibutuhkan. Untuk itu, mari kita gaungkan kembali spirit Idul Adha ini dalam kehidupan sehari-hari dalam hidup kita.

*Tulisan ini pernah dimuat di http://aku.dutadamai.id/2017/09/01/idul-adha-momentum-spirit-persatuan-dan-kesatuan/

 

 

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.